Rabu, 25 September 2019

Cerpen sedih, bahagia dan tawa tentang dua insan yang jatuh cinta namun harus sama sama merelakan


Sepatah ini


Hari ini hari yang sangat istimewa untuknya yang paling kucinta. Aku baru selesai memakai gaun coklat susu kesukaannya ditambah dengan heels emas dari brand terkenal.

“Liii… ayo berangkat, apa kamu mau terlambat?”, dhea memecahkan konsentrasiku saat menghadap ke cermin.
***
Mentari pagi masih menyinari jendela kaca kamarku, pertanda waktunya bangun tidur dan menata kembali potongan kisah yang sempat tertunda. Namaku Lia, Rachellia Zafina, gadis 17 tahun dan sedang menempuh pendidikan menegah atas. Orang tuaku adalah pengusaha sukses di bandung.

Keseharianku hanya sekolah, belajar, les dan sedikit bermain. Aku punya temen dekat namanya dhea, rumahnya sebelahan dengan rumahku. Sejak orang tua ku pindah dinas ke bandung dhea selalu menemani hari-hariku. Dia gadis yang sangat baik dan penyayang. Perihal sekolah, aku selalu dinobatkan menjadi juara umum, bahkan anak-anak kutu buku sering memintaku untuk mengajari atau sekedar memberikan motivasi.

Hari-hari disekolah ku semakin berkesan dengan datangnya seorang pangeran berambut pirang dan bermata coklat yang jatuh dari kayangan menurutku. Dia Rico, siswa pindahan dari Jakarta, dengarnya sih orang tuanya sedang mengajar di salah satu PTN di Bandung. Rico duduk tepat di depanku dan didepannya meja guru.

Menurut pantauanku rico anak yang pintar namun cukup malas hingga selalu ketiduran di kelas. Teguran guru tak membuatnya berubah. sampai suatu ketika kepala sekolah memanggilku ke kantornya. Kepala sekolah memintaku untuk memotivasi belajar nya rico, karena beberapa anak dikelas berhasil aku gugah hatinya yang super keras bagai batu untuk belajar.

“Kalau kamu berhasil membuat rico belajar, bapak akan sangat berterima kasih padamu li, rico itu anak sahabat bapak, dia sebenarnya pintar, namun karena permasalahan keluarga yang ia hadapi membuat rico semakin menjadi-jadi, tolonglah rico ya lii..” kata pak nas kepala sekolahku dengan mata berkaca-kaca.
“baiklah pak, akan lia bantu semampu lia” aku menjawab berharap dapat membantu pak nas dan rico.
***
Sejak kejadian hari itu hubungan aku dan rico semakin dekat. Setiap harinya rico main kerumahku untuk belajar bareng aku dan dhea.
Hari semakin gelap, langit mulai menaburkan warna jingganya, rico dan dhea pamitan pulang.
“Makasih makanannya bi” Rico mengambil bungkusan makanan dari bi inah
“Aku pamit dulu ya li, makasih kamu udah ngajarin aku hari ini”  rico mencubitku
“Kamu kebiasaan deh, ia sama-sama, Yaudah pulang sana sampein salam untuk mama ya, jangan kesiangan besok ujian nasional loh kita”
Keluargaku dan keluarga rico dekat semenjak rico sering main kerumah ku. Pernah kala itu keluarga kami liburan bareng ke Maldives.
Malam ini dhea tidur dirumahku, karena orang tuanya lagi dinas di luar kota. Kamar ku tidak terlalu besar dan hanya dipenuhi dengan rak buku yang tersusun rapi.
“Li, enak banget ya jadi kamu, pinter, cantik dan disukai banyak pria, aku pengen deh jadi kaya kamu”
Perkataan dhea membuat buku yang ditanganku jatuh karena kaget dengan ucapannya, selama enam tahun kami berteman belum pernah dhea mengucapkan kata-kata itu.
“Apaan sih kamu dhe, aku  biasa aja, kamu belum tidur?” aku berusaha mengalih pembicaraan.
“Ia loh li, aku perhatikan selama setahun ini kaya rico dan temen-temennya pada suka kamu deh, masa kamu ga ngerasa sih. Itu kaya si dimas kemarin baru ngasih kamu bunga, bagas malah ngasih surat cinta. kamu itu udah dewasa li, kamu pasti punya perasaan terhadap salah satu dari mereka, kamu gak mau jujur sama aku???” dhea mulai serius, keningnya mengerut.
Aku duduk disamping dhea, mengecilkan AC karena terlalu dingin
Aku tersenyum lebar menatap dhea
“Aku engga ngerasa apa-apa dhe, tapi aku sangat senang jika rico mengatakan cinta padaku, aku suka rico sejak awal kali bertemu, dia itu beda sama orang lain, dia itu mampu mengalihkan duniaku”.
“Gila kamu li, hampir dua tahun kamu mendam perasaan, besok hari terakhir kamu bisa bareng sama rico, kenapa kamu engga jujur aja, apa karena kamu cewek? gak bisa nyatakan cinta? sanggup kamu ya li” dhea mulai emosi, langit-langit kamar menjadi merah seketika, suhu ruangan yang tadinya sedingin kutub kini menjadi panas. bagaimana tidak hal sebesar ini aku tidak pernah menceritakan sedikitpun pada dhea, padahal dhea selalu curhat masalah pacarnya padaku.
“Sebenarnyaaaaa eeeee, rico sejak satu tahun yang lalu sudah mengungkapkan kalau dia suka sama aku, tapi aku ga ingin pacaran, masa pendekatan lebih indah dari pada saat udah bersama, banyak banget yang bilang sama aku kalau pacaran itu hanya indah diawal doang bahkan kamu sendiri yang bilang dhe, aku ga punya keberanian untuk meluahkan segala isi hatiku ke dia, selama itu kami hanya punya cerita special tanpa ada kata kepastian”. aku menangis, dhea memelukku.
Malam yang tadinya panas berubah kembali menjadi biru sendu
***
Langit begitu mendung, sepertinya kabar tidak baik akan segara menghampiriku. Hari ini pengumuman kelulusan di PTN. Ternyata benar dugaanku, aku nangis sejadi-jadinya karena tidak lulus di PTN yang aku harapkan dengan jurusan yang aku inginkan. aku mengurung diri dikamar selama 3 hari sampai membuat kedua orang tuaku khawatir pun dhea. Rico datang kerumahku, menyemangatiku.
“Lia, tolong buka pintunya, aku tau kamu kecewa, tapi lihatlah kami lebih kecewa jika kamu bersikap seperti ini, kamu itu pintar, banyak sekali PTN yang terbuka pintunya untukmu. tolong keluar li, disini ada aku, bunda ayah, bi inah dan dhea. Tolong dhe..” rico terus mengetuk pintu kamarku.
Membuka pintu kamar. Bunda memelukku.
“Gak apa li, anak bunda gak boleh sedih, kamu harusnya senang, kamu itu dapat undangan dari mantan kampus mama di Jakarta. kamu keterima di fakultas keguruan, bukankah seorang perempuan memang bagusnya menjadi guru, jadi guru berkah nak, bisa menciptakan berbagai profesi. Anak Bunda yang cantik ga boleh sedih lagi ya..”
***
Aku, Dhea dan Rico kini berpisah. kami kuliah di kampus yang berbeda. Rico berhasil Lulus di kampus impiannya di Australia pun dengan dhea, dimas dan bagas yang kuliah di depok. Cerita kami abadi di buku tahunan SMA. Sampai detik akan berpisah dengan rico tak sepatah kata cinta yang keluar dari mulutku, semuanya bungkam, aku melepas rico dengan senyuman bahagia kala itu karena aku ga ingin lihat rico sedih.
Hari-hari ku di kampus sangat menyenangkan, aku menemukan pengalaman baru. dikampus biru aku juga dinobarkan sebagai mahasiswa preatasi. Ternyata benar apa yang bunda bilang, ”bukan perihal kampus dan jurusan apa yang kamu jalani, tetapi bagaimana cara nya kamu bisa menjadi yang terbaik pada jurusan yang terpilih dan bisa menjadi roll model untuk teman-teman kamu”.
Setiap malam  rico selalu menelponku, menanyakan kabarku, bunda dan kuliahku. setiap telfonnya dia selalu mengucapkan kata I love you, namun aku tak pernah membalasnya, malah aku selalu bilang pada nya “anak bodoh kuliahnya di Australia, hebat banget ya” dan rico selalu menjawab hal yang sama “hanya anak bodoh inilah yang mampu mengejarmu selama ini”. aku tersenyum tersipu malu.

***
Penghujung semester akhir datang, liburan S2 ku semakin terlihat auranya tanpa ditutupi oleh kabut sedikitpun. Sudah lima bulan lamanya aku menunggu kabar rico yang tak kunjung datang, aku dengar dari temen kampusku rico sudah balik ke Indonesia. Mungkin dia sedang sibuk.
Sekarang aku sedang dekat dengan Giring, dia sering banget membantu pekerjaan kampusku, tapi aku tidak pernah menyukainya. giring anak basket dengan postur tubuh yang sangat ideal, bahkan cewe-cewe dikampus pada menyukainya, tapi giring memilihku. Kabar ini sampai hingga telinganya rico, rico kecewa berat denganku, rico memutuskan semuanya sebelah pihak, tanpa mendengarkan penjelasanku.
“Jadi ini alasan kamu menolakku li, semoga kita bisa bahagia dengan jalan hidup masing-masing” pesan terakhir rico sebelum memblokir seluruh akun ku.
Sejak hari itu aku membenci semua orang, aku benci giring, aku benci semua teman cowokku. aku menyesal tidak menerima rio padahal aku begitu mencintainya. sampai detik ini rico bahkan ga tau rasa ini sudah tersimpan rapi untuknya dan sekarang dia pergi begitu saja.
Hari muram kujalani tanpa kabar rico, kini aku bekerja jadi dosen di bandung dekat dengan rumah. Perkara rico aku bener-benar kehilangan kontaknya, bahkan mereka sudah pindah rumah ke bekasi.
***
Triiingggg……………………………………
Bunyi handphone memecahkan lamunanku di tumpukan kertas putih di atas meja. ternyata ada yang nelfon, aku tidak tau persis itu siapa karena tidak ada nama
“Hallo, ini siapa?”
“Ini Lia? hai Li, aku Rico, apa kabar kamu?”
Tubuhku seketika bergetar, darah-darah diotak seketika begitu cepat mengalir keseluruh tubuh, jantungku rasanya sudah copot dan ragaku rasanya kini sudah kembali, aku terdiam sejenak memastikan ini memang beneran rico, karena sudah empat tahun lamanya dia hilang tidak tahu dimana.
“Iya ini Lia ric, aku kabar baik, ada apa? tumben nelfon” saat ini aku tersenyum sangat lebar sekali, bahkan seluruh gigiku kelihatan, aku dapat melihatnya dibalik jendela.
“Iya nih Li, aku mau menyampaikan kabar baik untuk kamu, bunda dan keluarga. Minggu ini datang ya ke nikahan aku digedung blok A Semarang, bilangin ke dhea juga ya, aku ga ada nomernya. Cuma mau nyampein itu aja sih. udah dulu ya. Assalamualaikum”
Bagaikan lelehan timah diotakku, bagai ditusuk beribu kali di belakang badanku, seluruh tubuh ku rasanya meleleh, aku jatuh-sejatuh jatuhnya, cinta yang ku pendam delapan tahun lamanya kandas begitu saja, pria yang kucintai akan menikahi gadis lain, aku menangis sejadi-jadinya, waktuku ku habiskan di kamar, siang malam ku ratapi nasib yang menurutku tak beruntung ini, aku menelfon dhea menangis sejadi-jadinya.
Malam itu juga dhea datang memelukku,menasehatiku agar jangan bertindak bodoh.
“kamu itu baik li, kamu itu cantik dan pintar, usia yang sangat muda aja kamu udah jadi dosen, pasti akan banyak lelaki yang lebih baik dari rico yang akan datang melamarmu, lepaskan rico dengan ikhlas li, lepaskan. rico memang baik, tapi baiknya rico bukan untukmu. kamu memang menyukainya dan dia menyukaimu, tapi tidak untuk saat ini li, lihat aku li, lihat aku sekarang, kamu itu harus lebih tegar, jika kamu memang mencintai rico biarkan dia bahagia bersama pilihannya, aku yakin kamu kuat dan memang harus begitu” semalaman aku tak tidur memikirkan gimana jadinya hidupku kedepan tanpa rico, belahan dan separuh nafasku kini diambil orang, tak ada lagi yang tersisa.

***
Teruntuk kamu, hidup dan matiku
sudah delapan tahun lamanya aku mememdam perasaan ini
tak pernah sedikitpun aku mengatakannya padamu
aku tak tau lagi harus dengan kata apa aku menulisnya
atau dengan kalimat apa untuk berbahagia dengan hari bahagiamu
aku tak bisa berbohong, hari ini matahariku sendu lebih sendu dari biasanya
langitku menangis, meraung meratapi nasibku yang menunggu
untuk kesekian kalinya aku dipatahkan oleh cinta
patahannya kini sudah menjadi milik orang
dan benar cinta masih berkuasa di atas segalanya
Teruntuk kamu hidup dan matiku
Hari ini bibirku di paksa untuk tersenyum, padahal sebenarnya tak mampu
kini kamu sudah menemukan pilihanmu
aku pasti mendoakan kalian akan bahagia selamanya
Teruntuk kamu hidup dan matiku
Selamat menempuh hidup baru untuk lelaki yang sangat aku cintai

***
Aku berjalan dengan hati yang lapang, meski sulit sekali terlihat senyum kerelaan dibibirku, diperjalanan ibu memegang erat tanganku tanda menguatkan. Dhea berangkat dengan tunangannya.
Di tempat yang katanya bahagia itu banyak sekali teman SMA ku disana. Dimas, Bagas dan teman-teman lainnya turut hadir memberikan doa restu untuk mereka.
perihal giring aku sudah tidak tahu lagi kabarnnya, karena aku memutuskan untuk membrokir semua akunnya.
Akhir kata aku mengucapkan salam perpisahan pada rico juga pada perempuan yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. Mama nya rico memelukku sangat erat sekali, menangis terharu.
Selamat berbahagia ric, Karin. semoga kalian bahagia, cepat ngasih ponaan buat aku ya. Embun bening di kelopak mataku jatuh tetes demi tetes.
-End-

Singgasana Ternyaman
Banda Aceh
26 September 2019
12:29 am



Terima Kasih agan-agan semuanya udah baca tulisan aku, semoga kalian suka, dan jangan lupa share link blog aku ke teman-teman kalian. komentar dan masukan dari kalian juga sangat aku tunggu.
postingan cerpen selanjutnya enak nya tentang apa nih? yuk vote di kolom komentar.

Titik Jenuh

Tidak pernah tau akhir dari kisah layar ini terlalu terombang ambing untuk menuju proses pendewasaan terlalu abu untuk laut yang butuh biru ...